Menu Close

Parade Budaya Meriahkan Festival Florata

LABUAN BAJO  Rabu, 31 Juli 2019 –Sinar mentari sore memeluk hangat peserta parade budaya Festival Florata di Halaman Kantor Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPRKPP) KabupatenManggarai Barat, Selasa (30/7).

Mereka berjajar apik membentuk setengah lingkaran mulai dari halaman belakang Kantor DPRKPP hingga di halaman depan. Sementara di jalanan depan Rumah Sakit Siloam sampai depan Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Mabar berderet rapi kendaraan roda empat dan roda dua.

Petugas Dinas Perhubungan bersama aparat Polri dan TNI seakan tak kenal lelah mengatur arus lalu lintas yang ramai. Meski peluh bercucuran di wajah, namun mereka tetap tersenyum ramah.

Waktu menunjuk pukul 16.05. Suasana di sekitar Kantor semakin semarak dengan penampilan peserta parade yang kebanyakan mengenakan pakaian motif daerah. Ada motif dari etnis Lembata, Flores Timur, Maumere dan Nagikeo.Turut pula beberapa paguyuban yang ada di Labuan Bajo di antaranya jawa dan bugis.

Namun motif songket Manggarai dengan berbagai corak hasil kreativitas penenun lokal tetap mendominasi. Maklum, tuan rumah Festival Folarata kali ini adalah Manggarai Barat. Di dalamnya terdapat sejumlah sanggar budaya, siswa SMP dan SMA/SMK sekota Labuan Bajo, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Mabar, instansi Vertikal dan pelaku pariwisata. Mereka memakai busana daerah Manggarai.

Tepat pukul 17.00 Wakil Bupati Manggarai Barat, drh. Maria Geong,Ph.D., melepas peserta parade budaya.Tampil paling depan adalah peserta display drumband dari SMAK St. Ignatius Loyola.

Festival Seni dan Budaya Florata kali ini hanya diikuti 6 Kabupaten yakni Lembata, Flores Timur, Maumere, Nagikeo, Manggarai dan Manggarai Barat. Sedangkan Kabupaten Ende, Ngada dan Manggarai Timur berhalangan. Walau demikian, hal yang cukup menarik dalam Festival Florata kali ini yakni adanya peserta dari Negara tetangga : Timor Leste dan Philipina.

Di Lapangan sepak bola Kampung Ujung, peserta parade budaya diterima secara adat oleh Wakil Bupati Maria Geong. Orang Manggarai mempunyai ritus khusus untuk menerima tamu yang dikenal dengan nama kepok. Di dalamnya ada sarana kendi yang berisi arak/tuak (minuman lokal) dan ayam.

Minuman itu mengandung arti bahwa sang tamu telah melakukan perjalanan jauh dan karena itu diberi minuman untuk menghilangkan dahaga. Sedangkan ayam adalah simbol  yang menunjukkan bahwa sang tamu disambut dan dihormati dengan cara dipangku. Akan tetapi karena tamunya adalah orang dewasa, maka sebagai gantinya disimbolkan dalam rupa ayam. Ritus ini memiliki arti bahwa orang Manggarai menyambut dengan penuh keramahan dan kehangatan yang menunjukkan rasa hormat terhadap tamu.

Wakil Bupati Maria Geong mengatakan, Festival Florata merupakan suatu upaya menggali dan melestarikan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat agar tidak tergerus oleh budaya modern. Nilai-nilai itulah yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

“Pewarisan nilai-nilai budaya ini kepada generasi muda menjadi tanggungjawab kita karena mereka adalah penerus dan pemegang estafet warisan leluhur,” ungkap Maria Geong.

Wakil Bupati Maria Geong berharap agar Festival Seni dan Budaya Florata ini dapat menjadi wahana belajar bagi generasi muda.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata, Hendry Noviardi mengatakan Festival Florata merupakan salah satu program dalam menggiatkan promosi destinasi pariwisata di mana Labuan Bajo termasuk dalam salah satu dari 4 destinasi super prioritas nasional.(ArnoldusNggorong)

Leave a Reply

Your email address will not be published.