Menu Close

Kementerian LHK Gelar FGD Kajian DDDT Berbasis Jasa Ekosistem TNK

Labuan Bajo, Kominfo Mabar – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Martinus Ban dan Asisten Administrasi Umum Setda Manggarai Barat Ismail Surdi mewakili Bupati Manggarai Barat mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Kajian Daya Dukung Daya Tampung (DDDT) Berbasis Jasa Ekosistem Taman Nasional Komodo (TNK)

FGD DDDT diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. FGD dilaksanakan secara Hybrid melalui faktual dan zoom meeting, Jumat (11/02) di Hotel Bintang Flores Labuan Bajo Manggarai Barat

FGD ini dilaksanakan dalam rangka upaya mengantisipasi perkembangan pengelolaan Taman Nasional Komodo seiring dengan penetapan Labuan Bajo sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, diperlukan suatu kajian yang dapat memastikan pengelolaan taman nasional dapat berkelanjutan.

Lukita Awang Nistyantara, Kepala BTNK dalam sambutanya mengatakan Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai Situs Warisan Dunia dan Destinasi Ekowisata Kebanggaan Nasional perlu kita jaga bersama-sama dengan arah pengelolaan konservasi yang konstruktif dan seirama.

“Sebagai Situs Warisan Dunia dan Destinasi Ekowisata Kebanggaan Nasional dan titipan anak cucu, TNK perlu kita jaga keberlanjutannya,” ucap Lukita Awang

Dijelaskannya TNK merupakan habitat bagi biawak komodo beserta satwa dan tumbuhan lainnya baik yang hidup di wilayah daratan maupun perairan yang satu sama lainnya saling berhubungan. TNK juga merupakan tempat tinggal bagi masyarakat lokal yang telah bermukim terhitung sejak pertama kali Taman Nasional Komodo ditunjuk hingga ditetapkan.

TNK sebagai Cagar Biosfer Komodo tentunya memiliki perpaduan antara keunikan biodiversitas dengan sosial budaya masyarakat. Legenda dan mitos lahir di kalangan masyarakat setempat oleh karena adanya simbiosis dan harmonisasi antara manusia dengan satwa liar yang hidup berdampingan satu sama lain.

TNK membentang tinggi hingga ke wilayah pegunungan di Pulau Komodo dan menjulang dalam hingga ke beberapa titik perairan dalam berwarna biru kegelapan. Ekosistemnya unik dan mendapatkan perhatian masyarakat dunia oleh karenanya.

“Taman Nasional Komodo merupakan destinasi wisata alam kekinian. Maka Bapak dan Ibu jangan heran jika keinginan para pelajar Indonesia dan luar negeri untuk dapat belajar langsung di laboratorium alam ini semakin tinggi setiap tahunnya,” jelas Lukita Awang

Ia juga menyampaikan bahwa mengelola TNK tidaklah mudah. Sangat kompleks. Banyak faktor dan hal yang perlu menjadi pertimbangan seksama agar produksi kebijakan tepat sasaran positif tidak hanya untuk pengelolaan namun juga konstruktif bagi biodiversitas dan sosial masyarakat di dalam dan sekitarnya.

“Oleh karena itu, segala bentuk kajian ilmiah harus dilakukan dengan sangat hati hati dan dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya. Precautionary principle (prinsip kehati-hatian),” ujarnya

Kajian DDDT berbasis jasa ekosistem ini merupakan kajian yang dinantikan sejak lama. Menurutnya Informasinya dapat gunakan untuk menentukan kebijakan pengelolaan lebih tepat sasaran dan berbasiskan data ilmiah. Scientific based, evidence based, experience based perlu diperhatikan.

Ia berharap peserta FGD dapat memberikan masukan konstruktif untuk menyempurnakan kajian ini semata untuk giat mendukung pengelolaan kawasan TNK lebih positif lagi kedepannya.

“Saya juga berharap FGD ini bukan menjadi FGD pertama dan terakhir, namun menjadi pertemuan pembuka untuk FGD FGD lain berikutnya hingga dokumen kajian dapat terselesaikan secara sempurna,” harap kepala BTNK Lukita Awang

(Syarif ab -TIM IKP Kominfo Mabar)

Leave a Reply

Your email address will not be published.