Menu Close

CERITA DARI PELANTIKAN ANGGOTA DPRD MABAR

LABUAN BAJO – Bahana musik melengking merdu dari ‘Toa’ corong speaker yang dipasang di ‘Bus kayu’ Jumat siang, (30/8). Gema suaranya berkumandang lantang di tengah kota Labuan Bajo. Gaungnya mengusik warga yang lagi asyik dengan kesibukannya, tapi sekaligus juga menghibur.

‘Bus kayu’ adalah nama yang disematkan penduduk lokal pada mobil truk yang dijadikan angkutan desa di wilayah Manggarai. Nama lain yang juga akrab dikenal oleh mereka adalah ‘Oto Colt’ untuk mobil truk itu. Truk ini dipasang tenda di atasnya untuk melindungi penumpang dari panas dan hujan.

Tempat duduknya dibuat dari papan yang bisa dilepas bila hendak mengangkut barang atau material dalam jumlah yang banyak. Animo masyarakat desa untuk memanfaatkan jenis angkutan desa ini sangat tinggi lantaran bisa membawa barang bawaannya sepulang dari kota. Mereka pun rela duduk berhimpit-himpitan, malah ada yang duduk di atas tenda mobil tanpa takut akan resiko jatuh.

Entah bagaimana asal usulnya dan siapa yang memberi nama pada jenis angkutan ini, tidak diketahui dengan pasti. Konon menurut cerita, mobil truk ini muncul pertama kali di Manggarai sekitar tahun 1970-an. Di depan kaca mobil itu tertulis ‘Colt’. Itulah cikal bakal orang menyebut jenis mobil truk ini dengan sebutan ‘Oto Colt’.

Maklum saja, topografi alam Manggarai (Flores umumnya) yang berbukit-bukit dengan kondisi jalan terjal dan curam serta sempit dan bahkan sebagian besar aspalnya sudah terkelupas hanya bisa dilalui oleh jenis mobil truk yang disulap menjadi angkutan desa. Pada musim hujan dimuat juga dengan dedak untuk ditaruh di jalan berlubang dan licin sehingga bisa dilewati. Kondisi jalan tersebut terutama di wilayah utara dan sebagian wilayah selatan Manggarai Barat.

Nah, bila terdengar nyaringnya suara musik yang berkumandang, dengan sendirinya orang tahu, ‘Bus Kayu’ masuk kota. Itulah ciri khas angkutan desa dari mobil truk di wilayah Manggarai. Rasanya ‘Bus Kayu’ ini menjadi angkutan desa yang umumnya biasa dipakai untuk wilayah Flores.

Siang itu, angkutan ini membawa sejumlah penumpang dari desa. Ada yang dari Ndoso, ada pula yang dari Kuwus, dan yang lainnya dari Terang. Mereka datang untuk menghadiri acara pelantikan anggota dewan terpilih periode 2019-2024. Kehadiran mereka merupakan bentuk dukungan terhadap anggota dewan terpilih dari Dapilnya masing-masing.

Hari itu, Jumat (30/8), 30 anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat periode 2019-2024 dilantik. Sekitar 15 anggota dewan adalah wajah lama, sedangkan yang lainnya wajah baru. Mereka dilantik oleh Ketua Pengadilan Negeri Manggarai Barat, Muhamad Nur Ibrahim,SH, MH.

Edistasius Endi, Ketua DPD Partai NasDem, menjadi ketua DPRD sementara Kabupaten Manggarai Barat, sedangkan Darius Angkur dari Partai PDIP menempati posisis Wakil Pimpinan DPRD sementara.

Turut hadir dalam acara pelantikan tersebut, Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula, dan Wakil Bupati Manggarai Barat, drh. Maria Geong,PhD berserta sejumlah pimpinan OPD.

Bernadus Ambat, anggota DPRD yang baru dari Partai Perindo yang dihubungi di Labuan Bajo, mengatakan, salah satu permasalahan yang sangat urgen saat ini adalah air minum bersih. Masalah air minum bersih masih merupakan masalah yang paling mendesak saat ini terutama di kota Labuan Bajo.

Meskipun dari Dapil II (Kecamatan Kuwus, Macang Pacar, Ndoso, Pacar dan kuwus Barat), namun Bernadus Ambat memiliki tanggungjawab moril untuk memberi perhatian serius terhadap masalah ini karena ia kini menyandang status wakil rakyat untuk Manggarai Barat.

Terkait masalah air minum ini, lanjut Bernadus Ambat, sebagai mitra, ia akan mendorong Pemerintah agar lebih memberi perhatian besar agar masyarakat kota dapat terlayani air minum, apalagi saat ini telah memasuki musim kemarau.

Sedangkan untuk daerah pemilihannya sendiri, ujar Bernadus Ambat, akses jalan merupakan masalah yang sering diangkat oleh konstituen dan karena itu ia akan berusaha memperjuangkannya.

Namun ia juga berharap agar masalah infrastruktur jalan bukan hanya menjadi urusan Pemerintah melainkan juga menjadi perhatian bersama seluruh warga masyarakat.

“Partisipasi warga merupakan bagian penting dalam pembangunan karena tanpa partisipasi itu, maka pembangunan seolah menjadi urusan pemerintah saja,” ujarnya.”Misalnya dengan merawat yang sudah ada,” lanjutnya. (Arnoldus Nggorong)

Leave a Reply

Your email address will not be published.