Menu Close

Bupati Mabar Hadiri ‘Roko Molas Poco’ Gendang Lalang Welak

LabuanBajo, Kominfo Mabar-Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, SE menghadiri acara Roko Molas Poco Gendang Lalang Desa Lale Kecamatan Welak, Sabtu (14/05).

Setibanya di tempat acara Bupati bersama rombongan diterima secara adat Manggarai, tuak curu, manuk kapu, caca selek dan toi loce.Roko Molas Poco Secara harfiah memiliki makna tersendiri. Roko berarti memikul secara bersama, Molas berarti gadis cantik, Poco berarti Gunung atau hutan.

Jadi Roko Molas Poco merupakan salah satu ritus dalam tradisi Masyarakat Manggarai dimana secara bersama masyarakat Manggarai memikul dan mengarak kayu pilihan yang merupakan gadis cantik dari gunung atau hutan, yang kemudian kayu ini akan dijadikan tiang utama atau masyarakat Manggarai menyebutnya Siri Bongkok/siri reha Niang atau Rumah Gendang atau rumah adat masyarakat Manggarai. Siri bongkok atau siri reha ini akan menjadi tiang utama menyangga tiang-tiang lain.

Acara Roko Molas Poco Gendang Lalang ini dimulai dari gerbang (Pa”ang) kampung Lalang menuju halaman (natas) Gendang Lalang diiring lagu ronda yang dibawakan oleh grup ronda. Masyarakat Kampung Lalang penuh antusias mengikuti acara ini.

Sesampainya di halaman Gendang Lalang, berbagai ritus adat digelar. Mulai dari acara tiba molas poco sampai peletakan tiang utama (derek siri bongkok).
Untuk diketahui sebelumnya telah dilakukan ritus adat saat pemilihan kayu, penebangan sampai pembentukan menjadi tiang.
Dalam sambutannya usai peletakan tiang utama (derek siri bongkok),

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan bahwa acara Roko Molas Poco yang dilakukan oleh masyarakat kampong Lalang merupakan wujud pelestarian budaya warisan leluhur Manggarai.

“Roko Molas Poco yang kita lakukan hari ini merupakan sebuah upaya pelestarian budaya yang merupakan warisan leluhur kita orang Manggarai”, ucapnya.

Dikatakan Bupati Edi ritual Roko Molas Poco menjadi gambaran bahwa masyarakat kampung Lalang menyadari akan pentingnya keberadaan rumah gendang atau niang sebagai symbol keutamaan, kebersamaan, pemersatu dan bahkan identitas masyarakat.

“Peristiwa hari ini menjadi sebuah gambaran bagi kita bahwa rumah gendang atau niang menjadi penting keberadaanya sebagai sebuah symbol keutamaan, symbol kebersamaan, persatuan dan bahkan identitas, alamat atau panduan agar orang tidak tersesat ”, ungkap bupati Edi.

Karenanya Bupati Edi berharap agar para tokoh adat dan masyarakat Kampung Lalang untuk melestarikan tradisi ini dan diwariskan keanak cucu sehingga tradisi ini tidak punah oleh kemajuan zaman.

“Tentunya kami selaku pemerintah terus mendukung upaya pelestarian budaya manggarai dan kami berharap agar tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan keanak cucu sehingga tidak punah oleh kemajuan zaman”, harapnya.

Dalam acara ini juga pemerintah Manggarai Barat menyerahkan bantuan untuk pembangunan rumah gendang sejumlah Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) yang diserahkan langsung oleh Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi, SE kepada panitia pembangunan rumah gendang Lalang.

Hadir mendampingi Bupati Manggarai Barat, Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Pius Baut, SE, Kepala Dinas Kominfo Paulus Setahu, S.Sos, Kepala Dinas Bina Marga Bina Konstruksi dan Perhubungan Yosep Suhandi, Kepala Satuan Polisi PP Stefanus Salut, S.Sos dan Ir. Fransiskus Partono dan Kabag Prokopim Rafael Guntur dan Camat Welak Avelinus Joni.

(Tyan Candra-Tim IKP Kominfo Mabar)

Leave a Reply

Your email address will not be published.